Nama : Yulia Masri
Semester : III B
NIM : 2009.1045
email : yulia_masri@yahoo.com
http : //yuliamasri-yuliamasri.blogspot.com
Tugas : TPKI
Kecelakaan Kereta Api ( KA ) yang mengenaskan. Berulang kali kecelakaan Kereta Api terjadi.kita katakan mengenaskan karena,kecelakaan ini menelan korban yang tidak sedikit, sebanyak 40 jiwa melayang dalam kecelakaan ini.Ini suatu peringatan sekaligus pelajaran penting ,bagi Bangsa ini. Khususnya bagi instuisi Transportasi di Indonesia. Kecelakaan ini menjadi pembelajaran yang amat berharga, agar jangan sampai terulang lagi.
Kereta Api Indonesia harusnya, lebih bijak dalam menangani masalah kecelakan ini. KAI juga mau mengakui kesalahannya. bukan dengan mengkambing hitamkan masinis, petugas lapangan, & pegawai kecilnya.ini menjadi PR bagi semua, kita harus mampu mengevaluasi kemampuan manajerial, dari pejabat – pejabat yang mengurusi perhubungan perkeretaapian. Pengelolaan kereta api yang baik, bukanlah sesuatu yang sulit untuk di pelajari. Kita bisa belajar dari banyak Negara, bagaimana mengelola sistem Kereta Api yang dapat diandalkan. Karena Kereta Api, merupakan sarana Transportasi yang vital.
Disamping itu, JAM KARET adalah ciri yang selalu mengingatkan kepada Kereta Api Indonesia. Dalam sejarahnya, Kereta Api Indonesia, tak pernah tiba tepat waktu sesuai jadwalnya. Telat 1-2 jam sudah biasa dan menjadi cerita lama, yang tak pernah di gubris sedikitpun, oleh pihak Kereta Api Indonesia. Harusnya para pegawai PT KAI, sadar bahwa mereka bekerja bukan untuk mencari kekayaan semata.mereka harus loyalitas, dalam kinerja yang baik dalam melayani masyarakat.
Untuk mengantisipasi supaya kecelakaan Kereta Api tidak terulang lagi. Maka diperlukan solusi perubahan, dengan keterpaduan kerja perhubungan, kepolisian, dan instansi – instansi, baik privat, maupun pemerintah. Agar semua sopir, / driver yang terkait dengan pelayanan umum seperti : sopir Bus, tak cukup punya SIM saja. SIM adalah hard skill. Soft skill seperti, kehati hatian, teliti, komitmen sebagai pelayan publik. Kalau hanya punya SIM tapi ugal- ugalan, mabok, dan sebagainya. Persyaratan masinis, sopir Bus, trailer dan sebagainya mesti dirubah.
Tidak terlepas dari semua itu, menurut sudut pandang dunia pendidikan.bahwa musibah kecelakaan tabrakan Kereta Api di pamalang. Tidak terlepas dari masih kurangnya sumber daya manusia itu sendiri. Memang di Negara kita Sumber Daya Manusia masih rendah. Di karenakan tingkat pendidikan rakyat Indonesia masih rendah. Kalau tingkat pendidikan Bangsa ini di tingkatkan, maka Sumber Daya Manusianya juga akan meningkat. Dengan begitu, akan meminimalisir kebobrokan dan kelemahan bangsa ini, di berbagai sektor. Bukan hanya di bidang perhubungan saja. Bisa jadi dengan meningkatnya SDM rakyat Indonesia, maka tidak akan ada lagi koruptor – koruptor di Negara ini. Yang menjadi musuh utama Bangsa.
Kamis, 07 Oktober 2010
catatan tugas TPKI 4
Catatan :
Pemaparan diatas, merupakan tugas dari Mata Kuliah Tekhnik Penulisan Karya Ilmiah ( TPKI ). Saya menuliskan wacana tersebut, menggunakan jenis wacana Narasi. Karena wacana diatas menyajikan cerita nyata, yang masalahnya berkisar pada suatu peristiwa.
Pada pengembangan paragraf, saya mengembangkan beberapa jenis paragraf diantaranya :
1. Paragraf pertama : Kalimat Topik pada Awal Paragraf ( Paragraf Deduktif ).
2. Paragraf kedua : Kalimat Topik di Akhir Paragraf ( Paragraf Induktif ).
3. Paragraf ketiga : Paragraf Non Linier.
4. Paragraf keempat : Paragraf Linier.
5. Paragrap kelima : Kalimat Topik di Awal dan di Akhir Paragraf ( Paragraf Campuran ).
Pemaparan diatas, merupakan tugas dari Mata Kuliah Tekhnik Penulisan Karya Ilmiah ( TPKI ). Saya menuliskan wacana tersebut, menggunakan jenis wacana Narasi. Karena wacana diatas menyajikan cerita nyata, yang masalahnya berkisar pada suatu peristiwa.
Pada pengembangan paragraf, saya mengembangkan beberapa jenis paragraf diantaranya :
1. Paragraf pertama : Kalimat Topik pada Awal Paragraf ( Paragraf Deduktif ).
2. Paragraf kedua : Kalimat Topik di Akhir Paragraf ( Paragraf Induktif ).
3. Paragraf ketiga : Paragraf Non Linier.
4. Paragraf keempat : Paragraf Linier.
5. Paragrap kelima : Kalimat Topik di Awal dan di Akhir Paragraf ( Paragraf Campuran ).
TUGAS TPKI 4
Kecelakaan KA yang Mengenaskan
Sabtu, 2 Oktober 2010 16:56 WIB
ITULAH fakta yang harus kita terima ketika Kereta Api Agro Bromo Anggrek menabrak dari belakang Kereta Api Senja yang sedang berhenti di Stasiun Pemalang hari Sabtu dini hari. Lebih dari 40 penumpang tewas dalam kecelakaan yang mengenaskan tersebut.
Kita katakan mengenaskan karena tabrakan terjadi ketika KA Senja justru sedang berhenti untuk memberi jalan kepada KA Argo Bromo Anggrek mendahului mereka. Korban menjadi begitu banyak karena kita tidak siap untuk menangani kecelakaan.
Hingga lebih 12 jam setelah kecelakaan terjadi masih banyak penumpang yang belum bisa dikeluarkan dari dalam gerbong. Peralatan yang ada di Stasiun Pemalang sangat terbatas jumlahnya dan petugas medis serta rumah sakit pun jumlahnya tidak mencukupi untuk bisa menangani kecelakaan sebesar itu.
Kalau kita katakan bahwa kita kedodoran di segala bidang, inilah salah satu cerminannya. Belum lagi kalau kita ingat bahwa kecelakaan yang terjadi hari Sabtu itu tidak hanya terjadi di Stasiun Pemalang. Ada tabrakan di tempat yang lain dan juga menimbulkan korban, meski tidak sebanyak di Pemalang.
Di era yang mengutamakan kecepatan dan ketepatan, kita sungguh tidak siap. Kita masih mengandalkan pada sistem lalu lintas perkeretaapian yang manual. Kita masih mengandalkan kepada kerja manusia untuk sistem yang harus bekerja penuh selama 24 jam.
Padahal, dalam jaringan kereta api setidaknya ada 240 juta pengguna setiap tahunnya. Untuk mengantarkan penumpang yang jumlahnya sama dengan jumlah penduduk Indonesia itu, pasti lalu lintasnya sangatlah padat.
Pertanyaannya, seberapa besar investasi yang sudah dilakukan negara untuk menopang pergerakan manusia sebanyak itu? Teknologi seperti apa yang sudah kita aplikasinya untuk menjamin keakuratan jalannya sistem dan sekaligus menjamin tingkat keselamatan penumpang?
Berulangkali kecelakaan kereta api terjadi dan kita segera menerjunkan tim Komite Nasional Kecelakaan Transportasi untuk melakukan penyelidikan tentang penyebab kecelakaan. Tetapi apa lalu langkah perbaikan yang dilakukan selain menghukum masinis dan petugas stasiun yang dianggap lalai?
Pemerintah seharusnya berani untuk mengatakan bahwa ada sistem yang harus diperbaiki. Kalau kecelakaan kereta api itu selalu berulang, pasti ada sistem yang tidak lagi memadai untuk menunjang penyelenggaraan perjalanan kereta api.
Sistem perkeretaapian yang kita miliki sebagian besar adalah peninggalan Belanda. Jaringan rel kereta api yang kita pakai masih jaringan yang dulu dibangun oleh Daendels. Kalau pun ada penambahan di zaman Republik ini, jumlahnya sangat minim.
Termasuk juga sistem sinyal dan pergantian jalur rel masih banyak yang dilakukan secara manual. Kita sangat tergantung kepada orang untuk lalu lintas yang begitu padat dan umumnya terjadi di saat orang sedang nyenyak untuk tidur.
Kecelakaan yang terjadi di Pemalang tidak bisa hanya direspons dengan melihat lokasi kecelakaan dan menghukum orang-orang kecil di bawah. Kita harus melakukan tindakan yang lebih dari itu, termasuk mengevaluasi kemampuan manajerial dari pejabat-pejabat yang mengurusi perhubungan dan perkeretaapian.
Kita harus berani melakukan itu karena kereta api adalah angkutan rakyat. Begitu banyak orang yang menggunakan sarana transportasi ini. Oleh karena banyaknya orang yang menggunakan kereta api, hingga harus menangani secara benar karena sedikit saja keliru menangani maka akibatnya fatal dan masif.
Lebih dari 40 orang yang meninggal dalam sebuah kecelakaan sungguh merupakan musibah yang luar biasa. Di negara maju, satu saja penumpang tewas dalam kecelakaan kereta api, pejabatnya sudah langsung mengundurkan diri.
Pengelolaan kereta api yang baik bukanlah sesuatu yang sulit untuk dipelajari. Kita bisa belajar dari banyak negara bagaimana mengelola sistem kereta api yang bisa diandalkan. Yang diperlukan tinggal kemauan dan political will bahwa kereta api merupakan sarana transportasi yang vital.
Kalau China dalam waktu pendek bukan hanya bisa menata sistem perkeretaapiannya dengan baik, bahkan kemudian mengembangkan teknologi kereta api yang maju, masak kita tidak bisa. Presiden selalu mengatakan, kalau bangsa lain bisa, kita harus bisa. Buktikanlah ucapan itu, jangan hanya sekadar berhenti sebagai slogan politik belaka.
Sabtu, 2 Oktober 2010 16:56 WIB
ITULAH fakta yang harus kita terima ketika Kereta Api Agro Bromo Anggrek menabrak dari belakang Kereta Api Senja yang sedang berhenti di Stasiun Pemalang hari Sabtu dini hari. Lebih dari 40 penumpang tewas dalam kecelakaan yang mengenaskan tersebut.
Kita katakan mengenaskan karena tabrakan terjadi ketika KA Senja justru sedang berhenti untuk memberi jalan kepada KA Argo Bromo Anggrek mendahului mereka. Korban menjadi begitu banyak karena kita tidak siap untuk menangani kecelakaan.
Hingga lebih 12 jam setelah kecelakaan terjadi masih banyak penumpang yang belum bisa dikeluarkan dari dalam gerbong. Peralatan yang ada di Stasiun Pemalang sangat terbatas jumlahnya dan petugas medis serta rumah sakit pun jumlahnya tidak mencukupi untuk bisa menangani kecelakaan sebesar itu.
Kalau kita katakan bahwa kita kedodoran di segala bidang, inilah salah satu cerminannya. Belum lagi kalau kita ingat bahwa kecelakaan yang terjadi hari Sabtu itu tidak hanya terjadi di Stasiun Pemalang. Ada tabrakan di tempat yang lain dan juga menimbulkan korban, meski tidak sebanyak di Pemalang.
Di era yang mengutamakan kecepatan dan ketepatan, kita sungguh tidak siap. Kita masih mengandalkan pada sistem lalu lintas perkeretaapian yang manual. Kita masih mengandalkan kepada kerja manusia untuk sistem yang harus bekerja penuh selama 24 jam.
Padahal, dalam jaringan kereta api setidaknya ada 240 juta pengguna setiap tahunnya. Untuk mengantarkan penumpang yang jumlahnya sama dengan jumlah penduduk Indonesia itu, pasti lalu lintasnya sangatlah padat.
Pertanyaannya, seberapa besar investasi yang sudah dilakukan negara untuk menopang pergerakan manusia sebanyak itu? Teknologi seperti apa yang sudah kita aplikasinya untuk menjamin keakuratan jalannya sistem dan sekaligus menjamin tingkat keselamatan penumpang?
Berulangkali kecelakaan kereta api terjadi dan kita segera menerjunkan tim Komite Nasional Kecelakaan Transportasi untuk melakukan penyelidikan tentang penyebab kecelakaan. Tetapi apa lalu langkah perbaikan yang dilakukan selain menghukum masinis dan petugas stasiun yang dianggap lalai?
Pemerintah seharusnya berani untuk mengatakan bahwa ada sistem yang harus diperbaiki. Kalau kecelakaan kereta api itu selalu berulang, pasti ada sistem yang tidak lagi memadai untuk menunjang penyelenggaraan perjalanan kereta api.
Sistem perkeretaapian yang kita miliki sebagian besar adalah peninggalan Belanda. Jaringan rel kereta api yang kita pakai masih jaringan yang dulu dibangun oleh Daendels. Kalau pun ada penambahan di zaman Republik ini, jumlahnya sangat minim.
Termasuk juga sistem sinyal dan pergantian jalur rel masih banyak yang dilakukan secara manual. Kita sangat tergantung kepada orang untuk lalu lintas yang begitu padat dan umumnya terjadi di saat orang sedang nyenyak untuk tidur.
Kecelakaan yang terjadi di Pemalang tidak bisa hanya direspons dengan melihat lokasi kecelakaan dan menghukum orang-orang kecil di bawah. Kita harus melakukan tindakan yang lebih dari itu, termasuk mengevaluasi kemampuan manajerial dari pejabat-pejabat yang mengurusi perhubungan dan perkeretaapian.
Kita harus berani melakukan itu karena kereta api adalah angkutan rakyat. Begitu banyak orang yang menggunakan sarana transportasi ini. Oleh karena banyaknya orang yang menggunakan kereta api, hingga harus menangani secara benar karena sedikit saja keliru menangani maka akibatnya fatal dan masif.
Lebih dari 40 orang yang meninggal dalam sebuah kecelakaan sungguh merupakan musibah yang luar biasa. Di negara maju, satu saja penumpang tewas dalam kecelakaan kereta api, pejabatnya sudah langsung mengundurkan diri.
Pengelolaan kereta api yang baik bukanlah sesuatu yang sulit untuk dipelajari. Kita bisa belajar dari banyak negara bagaimana mengelola sistem kereta api yang bisa diandalkan. Yang diperlukan tinggal kemauan dan political will bahwa kereta api merupakan sarana transportasi yang vital.
Kalau China dalam waktu pendek bukan hanya bisa menata sistem perkeretaapiannya dengan baik, bahkan kemudian mengembangkan teknologi kereta api yang maju, masak kita tidak bisa. Presiden selalu mengatakan, kalau bangsa lain bisa, kita harus bisa. Buktikanlah ucapan itu, jangan hanya sekadar berhenti sebagai slogan politik belaka.
Langganan:
Komentar (Atom)
